Jumat, 06 Juni 2008

Tahiyatul Masjid Pada Waktu yang Dilarang

Ada sebagian anggota masyarakat yang biasa mengerjakan shalat tahiyyatul masjid pada waktu tahrim. Seperti, ketika masuk masjid, padahal ia telah shalat ashar. Dan waktu tahrim lainnya seperti sesudah shalat subuh sebelum matahari terbit, saat matahari terbit, saat berada di tengah dan terbenam. [Jama’ah Masjid Agung Jami Sultan Muhammad Tsafiuddin, Sambas.]

Sebenarnya waktu yang terlarang untuk shalat ada tiga:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ {ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ تُصَلِّيَ فِيْهِنَّ. وَأَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَـتَّي تَزُوْلَ الشَّمْسُ وَحِيْنَ تَتَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ} رواه مسلم


Dari 'Uqbah bin 'Amr, ada tiga waktu yang Rasulullah Saw, larang kami bershalat padanya dan larang kami tanam mayit-mayit kami padanya, ketika sedang terbit hingga tinggi ia dan ketika tegak panas yang terik hingga tergelincir matahari, dan ketika hampir matahari terbenam.

Adapun shalat yang terlarang ba'dal 'ashri dan ba'das shubhi adalah shalat rowatib. Jadi artinya tidak ada shalat rowatib setelah ashar dan setelah shubuh.

Jauhkan Diri Dari Mental Mengemis dan Berjudi .

Dalam prinsip Islam, bumi dan segala isinya telah disiapkan dan ditundukan oleh Allah Swt, untuk kesejahteraan dan kehormatan manusia. Karena itulah seyogyanya manusia mampu memanfa'atkan dan mengelola anugerah (ni’mat) Allah ini. Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh-Nya.

Dengan kata lain sesuai dengan sunatullah. Allah Swt, memerintahkan manusia agar berusaha mencari anugerah dan keni’matan Allah dimuka bumi ini, sesuai dengan dasar tauhid, berpijak pada prinsip keadilan, ta'awun (tolong-menolong), bertitik-tolak dari ibadah dan tidak berbuat fasad (destruktif).

Jika prinsip-prinsip ini tidak dilaksanakan maka anugerah atau ni’mat Allah itu akan berubah menjadi adzab dan laknat bagi manusia. Kejadian-kejadian yang menimpa ummat manusia yang disebut bencana alam yang terjadi dilautan ataupun didaratan, sebenarnya adalah akibat ulah manusia itu sendiri (doyan berbuat maksiat), disamping sebagai peringatan dari Allah. Karena mustahil Allah mendzalimi hamba-hamba-Nya.

Karenanya, Islam tidak membenarkan seseorang bermalas-malasan dalam mencari karunia Allah ini, sekaligus Islam tidak membenarkan mengeksploitasi anugerah Allah dengan cara merusak, karena didorong oleh sifat rakus dan tamak.

Kini yang terjadi dan kita saksikan, pertama disatu pihak manusia ada yang rakus dan mengeksploitasi kekayaan bumi ini tanpa batas karena punya modal yang besar, serta memamerkan harta kekayaannya.

Kedua, dipihak lain yang kena imbasnya yaitu meraka yang terpinggirkan dan hidupnya miskin, bahkan dibawah garis kemiskinan. Hari demi hari dihimpit terus dengan kesulitan ekonomi. Sedangkan yang dipertontonkan kepada mereka adalah kemewahan dan gemerlapnya harta yang menggiurkan dan godaan nafsu seksual yang vulgar yang dilakukan oleh orang-orang mutrafien (ulu al-ni'mat)

Lebih fatal lagi, selain miskin materi mereka juga tidak sedikit yang miskin kreativitas. Akhirnya dihinggapi mental pengemis, mengutang dan mental judi (untung-untungan). Obsesinya tiada lain hanya ingin meniru perilaku orang-orang yang hidupnya glamour, tanpa diimbangi dengan kemampuan yang ada pada dirinya.

Kemiskinan lahir dan kemiskinan batin (rohani) ini adalah korban ketidakadilan dan salah lurus, atau dampak negative dari arus globalisasi yang tidak menghiraukan prinsip keadilan dan tolong menolong yang ditimpakan kepada orang-orang yang kondisi imannya tipis. Untuk memenuhi ambisinya itu mereka melakukan berbagai cara antara lain: menjamurnya pengemis, semakin banyak orang yang mengutang atau mengambil kredit barang karena dorongan hidup konsumtif dengan alasan untuk usaha, tanpa menghiraukan resikonya.dan semakin subur pula orang-orang yang ingin mendapatkan rezeki walaupun dengan cara malas (untung-untungan spekulasi) atau judi.

Gairah untuk kerja yang produktif menurun, kehormatan diri dan martabat sebagai manusia sudah tidak dihiraukan lagi, (tanpa rasa malu mengemis dan meminta) dan sulit mencari kerja yang diidam-idamkan (karena upahnya ingin besar dan gengsi-gengsian).

Jika itu yang terjadi bahkan mungkin menimpa diri kita sendiri, maka selaku mu'min kita wajib meneliti diri kita sendiri (muhasabah) dan mencari solusinya dengan cara agama.

Dalam salah satu hadist diterangkan ada shabat Nabi namanya Qubaishah. Ia datang kepada Rasulullah Saw untuk konsultasi, karena ia berada dalam kesulitan ekonomi.

Rasulullah bersabda: “Tungu sebentar mudah-mudahan ada orang yang ingin besedekah, nanti saya akan perintahkan supaya diberikan kepada anda.”

Lantas Rasulullah menasehatinya: “Wahai Qubaishah sesungguhnya mengemis itu tidak diperbolehkan oleh agama, kecuali bagi salah satu diantara yang tiga, yaitu:
  1. Orang-orang yang menanggung kesulitan karena kebutuhan yang sangat mendesak, ia boleh meminta-minta sehingga hilang kesulitannya itu, sesudah itu ia harus berhenti dari meminta-mintanya.
  2. Orang yang ditimpa dari hartanya sehingga habis sama sekali. Ia boleh meminta-minta sehingga dapat bangun kembali.
  3. Orang yang mengalami kemiskinan yang benar-benar miskin (tidak dibuat-buat) sehingga ia dapat bangkit dari kemiskinannya itu.
Oleh sebab itu meminta-minta atau mengemis selain dari ketiga macam tadi adalah haram hukumnya.(Hr. Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Dari hadist ini dapat ditarik faidah, yaitu seorang muslim wajib menjaga kehormatannya dan martabat dirinya sebagai manusia dengan jalan kasab yang halal.

Meminta-minta atau mengemis pada dasarnya dilarang (apalagi dijadikam sebagai bahan ladang usaha) jauhkan diri dari mental mengemis, mental mengutang dan mental judi. Bagi pengusaha wajib memberikan arahan dan diberikan didikan yang benar, dan memberikan teladan yang baik serta hidup yang sederhana.

Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit ini, ketiga mental diatas memang sulit dibendung sebab kehidupan manusia yang serba praktis dan pragmatis.

Apa saja yang bisa jadi uang itulah yang diburu. Dan dalam pemburuan itu seringkali nilai-nilai agama yang dikesampingjkan moral diabaikan. Ditambah lagi dengan arus globalisasi dalam segala sector kehidupan yang semakin merambah dengan dampak yang positif dan negativenya.

Negara yang belum siap, yang akan menjadi korbannya. Jalan yang terakhir agar selamt dari pengaruh buruk adalah kembali kejalan Allah swt. Laksanakan ajaran dengan penuh kedisiplinan dan keikhlasan. Tawakkallah dengan mencari karunia Allah pasti Allah akan memberikan perlindungannya. Amien.

Memohon ampunan kpd Allah S.W.T

Oh Tuhan, aku bukanlah ahli surga....
Juga tak mampu menahan siksa neraka....
Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku....
Hanyalah Engkau pengampun dosa hamba-Mu....
Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu....
Ya Allah terimalah amal taubatku....
Sisa umurku berkurang setiap hari....
Dosa-dosaku makin bertambah Yaa Allah....
Hamba yang berdosa datang bersimpuh....
Menyembah-Mu....
Mengaku menyeru dan memohon ampunan-Mu...

Bertepuk sebelah tangan.....

diSebuah kota,tepat nya dibawah kaki gunung...
Lahirlah seorang Bayi laki-laki yg Lucu dan imut,,tp jreeeng
Bayi itu di beri nm......?
Muhammad Hendrik..............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kemudian bayi itu tumbuh dan berkembang Menjadi seorang laki-laki yg sangat polos dan Lugu..
hari..Kian Hari Laki-laki itu berubah menjadi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Berubah jadi apa coba........................?
Menjadi pria dewasa yg bisa dibilang cakep,haHa...pEaCe aHh,,
Ternyata Laki-laki yg dulu polos dan Lugu itu berubah seketika....
Menjadi seseorang yg sangat dewasa ,,Laki-Laki dewasa itu di sukai para Gadis Heh..
sekarang laki-laki itu bekerja di sebuah perusahaan SV.DUNIA ILMU Bandung,,
Di perusahaan itu dia sangat menyukai kaum hawa.
sangat tak diduga..ternyata laki-laki dewasa itu menyukai,mencintai,bahkan menyayanginya....
tp apa yg laki-laki dewasa itu dapatkan.......???
ternyata laki-laki itu haya mendapatkan rasa sakit hati yg mendalam,,seperti di sembelih pake silet gi mn rasanya.......?
dia menangis...Laki-laki itu selalu meneteskan air mata......!!!
Keceriaan'y tidak terlihat lg.....
Hanya mata sendu yg terlihat jelas................!!!!!!!!!!!

Inilah kisah ku dalam menjalani Hidup!!!!!!!!!!!!!!!

Ketika Cobaan Sedang Menerpa

“Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfaal: 73)


Bencana demi bencana datang silih berganti menyapa kita. Mulai dari banjir yang menerjang beberapa kota, kecelakaan transportasi darat, laut sampai udara dan beberapa musibah lain, seperti angin puting beliung, gempa dan tanah longsor, belum lagi musibah karena penyakit Demam berdarah, diare, busung lapar dsb. Astaghfirullah, hati manusia mana yang acuh melihat keadaan seperti itu?! Deraian airmata atau isak tangis entah karena kehilangan sanak saudara atau kehilangan harta benda atau karena penyakit yang sedang diderita. Dan keadaan seperti itu sangatlah berat jika dirasakan khususnya bagi wanita yang mempunyai beberapa peran, wanita sebagai ibu atau sebagai istri. Wanita yang mempunyai hati selembut kapas, penuh simpati, mudah terbawa suasana, dan mudah pula rapuh hatinya.

Siapa yang tak kenal hati wanita?! Wanita adalah sesosok manusia yang dianugerahi dengan perasaan yang halus. Selembut-lembutnya hati seorang laki-laki masih lembut hati seorang wanita yang paling tegar sekalipun. Betapa hatinya bagaikan gelas-gelas kaca, sekali pecah hancur sampai berkeping-keping. Perasaan seperti itu sangat rentan terhadap kekecewaan dan kesedihan. Biasanya wanita mengekspresikan perasaan tersebut dengan menangis, entah menangis secara sembunyi-sembunyi ataupun menangis secara berlebihan, yaitu dengan menampak-nampakkan kepada setiap orang untuk menunjukkan betapa sedihnya ia. Namun jika tangisan tersebut berlebihan hingga mengeraskan suara dan seakan-akan menunjukkan kekecewaan atas Qadha’ dan Qadhar Allah Subhanu Wata’alla ini yang tidak boleh, Allah menguji manusia dengan batas kemampuan masing-masing manusia:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh: 286)

“Dari Abu Musa, Abdullah bin Qais radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang meratap ketika ditimpa musibah, mencukur rambut dan merobek-robek saku baju.”

Menangislah sewajarnya jika memang dengan menangis hati kita lebih lega, karena menangis adalah ciri seorang wanita. Menangis tidak selamanya termasuk bagian orang yang lemah dan tidak tegar, misalnya para shahabat seperti umar bin khaththab radhiyallahu’anhu pernah menangis jika mengingat keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menempatkan waktu yang sesuai untuk menangis itu yang terbaik. Musibah silih berganti, laksana bergantinya siang dan malam, hati yang kuatlah yang diperlukan untuk menepis kesedihan-kesedihan yang melanda. Dan hati yang kuat hanya ada bersama dengan iman yang kuat, rasa pasrah terhadap segala takdir-Nya.

Saudariku, mungkin diantara kita saat ini ada yang sedang mengalami musibah tersebut, mungkin keluarga kita atau handai taulan kita. Maka jadilah orang yang kuat dan dapat menguatkan orang di sekitar kita, serahkanlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta katakanlah “Innalillahi wa inna ilahi roji’un” “sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” Hal tersebut akan lebih baik untuk kita lakukan, dan telah dicontohkan oleh para salaf ketika mereka ditimpa musibah.

Dan janganlah menangis berlebihan bahkan hingga disertai menyakiti diri sendiri seperti memukul-mukul pipi sendiri atau mengatakan kata-kata yang kasar yang menunjukan rasa tidak suka dan tidak sabar atas musibah dan cobaan tersebut atau malah menyalah-nyalahkan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ada yang keterlaluan sampai mengakhiri hidupnya (bunuh diri), ia meyakini dapat menyudahi kesempitan yang sedang dialaminya di dunia akan tetapi sebenarnya malah membuka kesempitan yang lain yang justru ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah itu, laksana beralih dari pasir yang panas ke dalam bara api. Na’udzubillahi min dzalik. Mereka berpikir bahwa kematian dapat mengakhiri apa yang mereka tidak sukai, menghindar dari masalah, dan bersikap sebagaimana pengecut. Namun sebenarnya ia akan dihadapkan masalah yang lebih berat dan ia takkan mungkin bisa bunuh diri lagi untuk melarikan diri. Ternyata pikiran sempit mereka dapat menyulitkan mereka sendiri bahkan kesulitan yang paling sulit.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampari pipi, merobek-robek saku dan berseru-seru dengan seruan jahiliyyah.” (Muttafaqun ilaihi)

Saudariku disetiap perjalanan hidup kita tak lekang dari musibah dan cobaan, baik dengan kehilangan orang yang kita sayangi, kehilangan harta yang telah kita kumpulkan, atau penyakit yang telah kita derita. Sebagai mukmin yang cerdas hendaknya kita mengambil kesempatan untuk meraup pahala dari setiap kesulitan yang sedang kita hadapi. Dan hendaknya kita bisa memetik hikmah disetiap musibah dan cobaan. Wallohu a’lam bishowab.

saudaraku,Janganlah Enkau sakiti kedua Orangtuamu

Segala puji bagi Rabb alam semesta, shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Saudariku muslimah…
Pernahkah engkau memperhatikan seorang anak kecil yang tengah bersama orang tuanya? Atau, ingatlah masa kecilmu dulu sampai masa sekarang.

Ingatlah betapa besar kasih sayang kedua orang tuamu kepadamu. Ingatlah betapa besar perhatian mereka akan tempat tinggalmu, makan dan minummu, pendidikanmu, serta penjagaan mereka pada waktu malam dan siang. Ingatlah betapa besar kekhawatiran mereka ketika engkau sakit hingga pekerjaan yang lain pun mereka tinggalkan demi merawatmu. Uang yang mereka cari dengan susah payah rela mereka keluarkan tanpa pikir panjang demi kesembuhanmu. Ingatlah kerja keras siang malam yang mereka lakukan demi menafkahimu. Niscaya engkau akan mengetahui kadar penderitaan kedua orang tuamu pada waktu mereka membimbing dirimu hingga beranjak dewasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam Al qur’an, agar manusia berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.’” (Al Israa’: 23-24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 36, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An Nisaa’: 36)

Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah. Karena itu bisa kita pahami bahwa tidak boleh terjadi bagi seorang yang mengaku bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha salamah wal ‘afiyah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Menciptakan dan Allah yang Memberikan rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang berhak diibadahi. Sedangkan orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Saudariku, marilah kita belajar dari mulianya akhlaq para salaf dalam berbakti kepada kedua orang tuanya. Sesungguhnya dari kisah mereka kita dapat mengambil pelajaran yang baik. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Seorang lelaki ada yang pernah menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Ia bertanya, “Ada apa dengan Muhammad? Apakah ia sakit?” (karena Muhammad bin Sirin suaranya lirih hampir tak terdengar bila berada di hadapan ibunya. red). Orang-orang di situ menjawab, “Tidak. Cuma demikianlah kondisinya bila berada di rumah ibunya.”

Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafshah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya dengan suara keras demi menghormati ibunya tersebut.”

Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak.”

Dari Muhammad bin sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, pada masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah bin Zaid bin Haritsah mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu), lalu diberikan kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku menhendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya.”

Saudariku, andaikan (kelak) kita menjadi orang tua, tidakkah kita akan kecewa dan bersedih hati bila anak kita berkata kasar kepada kita, orang tuanya yang telah membesarkannya. Lalu, apakah kita akan tega melakukannya terhadap orang tua kita saat ini? Mereka yang selalu berusaha meredakan tangis kita ketika kecil. Ingatlah duhai saudariku, doa orang tua terutama ibu adalah doa yang mustajab. Maka janganlah sekali-kali engkau menyakiti hati mereka meskipun engkau dalam pihak yang benar.

Cermatilah kisah berikut ini saudariku…

Dari Abdurrahman bin Ahmad, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ada seorang wanita yang datang menemui Baqi’ dan mengatakan, “Sesungguhnya anakku ditawan, dan saya tidak memilki jalan keluar. Bisakah anda menunjukkan orang yang dapat menebusnya; saya sungguh sedih sekali.” Beliau menjawab, “Bisa. Pergilah dahulu, biar aku cermati persoalannya.” Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan berkomat-kamit. Tak berapa lama berselang, wanita itu telah datang dengan anak lelakinya tersebut. Si anak bercerita, “Tadi aku masih berada dalam tawanan raja. Ketika saya sedang bekerja paksa, tiba-tiba rantai di tanganku terputus.” Ia menyebutkan hari dan jam di mana kejadian itu terjadi. Ternyata tepat pada waktu Syaih Baqi’ sedang mendoakannya. Anak itu melanjutkan kisahnya, “Maka petugas di penjara segera berteriak. Lalu melihatku dan kebingungan. Kemudian mereka memanggil tukang besi dan kembali merantaiku. Selesai ia merantaiku, akupun berjalan, tiba-tiba rantaiku sudah putus lagi. Mereka pun terbungkam. Mereka lalu memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya, ‘Apakah engkau memilki ibu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Mereka pun berujar, ‘mungkin doa ibunya, sehingga terkabul’.”

Kejadian itu diceritakan kembali oleh al Hafizh Hamzah as Sahmi, dari Abul Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik. Ia menceritakan, aku pernah mendengar Abdurrahman bin Ahmad menceritakannya pada ayahku, lalu ia menuturkan kisahnya. Namun dalam kisahnya disebutkan, bahwa mereka berkata, “Allah telah membebaskan kamu, maka tidak mungkin lagi bagi kami menawanmu.” Mereka lalu memberiku bekal dan mengantarkan aku pulang.

Saudariku muslimah…

Maukah engkau kuberitahu amalan utama yang dapat membuatmu dicintai Allah? Tidakkah engkau ingin dicintai Allah, saudariku? maka sambutlah hadist berikut ini.

“Dari Abdullah bin Mas’ud katanya: ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah,’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktu), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah.’” (HR. Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9)

Saudariku muslimah…

Tidakkah engkau ingin selalu dalam keridhaan Allah? Maka, jadikanlah kedua orang tuamu ridha kepadamu, sebab keridhaan Allah berada dalam keridhaan kedua orang tuamu. Dan kemurkaan Allah berada dalam kemurkaan kedua orang tuamu. Seandainya ada seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal perbuatan seribu orang shiddiq, namun dia durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak akan melihat amalannya yang begitu banyak walau sedikit pun. Sedangkan tempat kembali orang seperti ini tidak lain adalah neraka. Dan tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang membuat wajah kedua orang tua atau salah satu dari mereka tertawa, kecuali Allah akan mengampuni semua kesalahan dan dosanya. Dan tempat kembali orang seperti ini adalah surga. Tidakkah kita menginginkan surga, saudariku?

Saudariku muslimah…

Sesungguhnya hak-hak kedua orang tuamu atas dirimu lebih besar dan berlipat ganda banyaknya sehingga apapun yang engkau lakukan dan sebesar penderitaan yang engkau rasakan ketika kamu membantu bapak dan ibumu, maka hal itu tidak akan dapat membalas kedua jasanya. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu melihat seseorang menggendong ibunya untuk thawaf di Ka’bah dan ke mana saja ’si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” (Shahih Al adabul Mufrad no. 9)

Saudariku muslimah…

Tidakkah engkau ingin diluaskan rizkimu dan dipanjangkan umurmu oleh Allah? Maka perhatikanlah dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu dawud 1693)

Saudariku, betapa besar semangat dan bahagianya hati kita ketika silaturrahim kepada teman-teman kita. Perjalanan jauh pun tidak kita anggap sulit. Ketika sudah bersama mereka, waktu seakan berjalan dengan cepat. Lalu, manakah waktu untuk silaturrahim kepada kedua orang tua kita? Beribu alasan pun telah kita siapkan.

Tahukah engkau saudariku, bukankah orang tua adalah keluarga terdekat kita. Maka merekalah yang haknya lebih besar untuk kita dahulukan dalam masalah silaturrahim. Ingatlah pula bahwa merekalah yang selalu berada di sisi kita baik ketika bahagia maupun duka, berkorban dan selalu menolong kita lebih dari teman-teman kita. Lalu, masih enggankah kita membalas segala pengorbanan mereka?

Saudariku muslimah…

Berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan sebuah keharusan, bahkan hal ini harus didahulukan daripada fardlu kifayah serta amalan-amalan sunnah lainnya. Didahulukan pula daripada jihad (yang hukumnya fadlu kifayah) dan hijrah di jalan Allah. Pun harus didahulukan daripada berbuat baik kepada istri dan anak-anak. Meski tentu saja hal ini bukan berarti kemudian melalaikan kewajiban terhadap istri dan anak-anak.

Saudariku, taatilah kedua orang tuamu dan janganlah engkau menentang keduanya sedikit pun. Kecuali apabila keduanya memerintahkan padamu berbuat maksiat kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak ada ketaatan bagi makhluk apabila pada saat yang sama bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman 14-15)

Sering kali, ketika rasa kecewa telah memenuhi hati kita, kekecewaan yang muncul akibat orang tua yang tidak tahu dan tidak paham akan kebenaran Islam yang sudah kita ketahui, bahkan ketika mereka justru menjadi penghalang bagi kita dalam tafaquh fiddin, kita jadi seakan-akan mempunyai alasan untuk tidak mempergauli mereka dengan baik.

Saudariku, ingatlah bahwa sejelek apapun orang tua kita, kita tetap tidak akan bisa membalas semua jasa-jasanya. Ingatlah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tetap memerintahkan kita untuk mempergauli mereka dengan baik, meskipun mereka telah menyuruh kita berbuat kesyirikan. Ya, yang perlu kita lakukan hanyalah tidak mentaati mereka ketika mereka menyuruh kita untuk bermaksiat kepada Allah dan tetap berlaku baik pada mereka. Lebih dari itu, tidakkah kita ingin agar bisa mereguk kebenaran dan keindahan Islam bersama mereka, saudariku? Tidakkah kita menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka sebagaimana mereka yang selalu menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi kita? Tidakkah kita ingin agar Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya? Karena itu, bersabarlah saudariku. Bersabarlah dalam membimbing dan berdakwah pada mereka sebagaimana mereka selalu sabar dalam membimbing dan mengajari kita dahulu. Jangan pernah putus asa saudariku, batu yang keras sekalipun bisa berlubang karena ditetesi air terus menerus.

Tahukah engkau saudariku, salah satu doa yang mustajab? Yaitu doa dari seorang anak yang shalih untuk orang tuanya. Sambutlah kembali hadiah nabawiyah ini, saudariku.

Dalam hadist Abu Hurairoh radhiyallahu anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia mati, putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah pasti mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang shalih ke surga, maka ia bertanya, ‘Ya Allah, bagaimana itu bisa terjadi?’ Allah menjawab, ‘Berkat istigfar anakmu untukmu.’” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kelak akan datang kepada kamu sekalian seseorang bernama Uwais bin ‘Amir, anak muda yang belum tumbuh janggutnya, keturunan Yaman dari kabilah Qarn. Pada tubuhnya terkena penyakit kusta, namun penyakit itu sembuh daripadanya, kecuali tersisa seukuran uang dirham. Dia mempunyai ibu yang ia sangat berbakti kepadanya. Apabila ia berdoa kepada Allah niscaya dikabulkan, maka jika engkau bertemu dengannya dan memungkinkan minta padanya memohonkan ampun untukmu maka lakukanlah.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Nah, saudariku. Janganlah engkau enggan untuk berdoa demi kebaikan orang tuamu. Sekeras apapun usaha yang engkau lakukan, bila Allah tidak berkehendak, niscaya tidak akan pernah terwujud. Hanya Allahlah yang mampu Memberi petunjuk dan membukakan pintu hati kedua orang tuamu. Mintalah pada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Memohonlah terus pada-Nya dan jangan pernah bosan meski kita tidak tahu kapankah doa kita akan dikabulkan. Pun seandainya Allah tidak berkehendak untuk memberi mereka petunjuk hingga ajal menjemput mereka, ingatlah bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Janganlah berhenti berdoa saudariku, karena tentu engkau sudah tahu bahwa doa seorang anak shalih untuk orang tuanya tidaklah terputus amalannya meski kedua orang tuanya sudah meninggal.

Sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita sholallahu ‘alaihi wassalam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan diada-adakan dan setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka.

Allahummaghfilana wa li waalidainaa warham huma kamaa robbayanaa shighoro

-Untuk bapak ibu, yang telah merawat dan memberikan kasih sayang berlimpah padaku. Tiada yang kuinginkan bagi kalian selain kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, serta mengumpulkan kita di dalam Jannah-Nya.

Senagkanlah Hatimu

Kalau engkau KAYA
Senangkanlah hatimu
Krn dihadapanmu terbentang kesempatan utk mengerjakan segala yg sulit-sulit.
Segala Perbuatanmu dihargai orang, engkau beroleh pujian di mana-mana.
Engkau menjadi mulia, tegakmu teguh.
Dihadapan engkau terhampar permaidani kepujian,
sebab itu engkau beroleh kebebasan dan kemerdekaan

Jika engkau FAKIR MISKIN
Senangkan pulalah hatimu!
Kerana engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa,
penyakit kesombongan yg selalu menimpa org kaya.
Senangkanlah hatimu krn tak ada org yg akan hasad dan dengki kpd engkau lagi,
lantaran kemiskinanmu.
Kefakiran dan kemiskinan adalah nikmat,
yg tidak ada jalan bagi org lain buat kecil hati,
dan tidak ada pintu bagi kebencian.

Kalau engkau DERMAWAN
Senangkanlah hatimu!
Kerana dgn kedermawanan engkau dpt mengisi tangan yg kosong,
telah dapat menutup tubuh yang bertelanjang,
engkau tegakkan org yg telah hampir roboh.
Dengan sebab itu engkau telah menuruti perintah hatimu
dan engkau beroleh bahagia
Berpuluh bahkan beratus makhluk Tuhan
akan menghantarkan pujian kepada Tuhan lantaran pertolonganmu
Kesenangan hatimu yg tadinya
Cuma satu, skrg akan berlipat ganda,
sebab telah byk org lain yg telah mengecap nikmatnya.

Kalau sekiranya engkau TAK KUASA JADI DERMAWAN
Itupun senangkanlah hatimu!
Sebab engkau tidak akan bertemu dengan suatu penyakit
yg selalu menular kpd masyarakat manusia,
iaitu tiada membalas guna,penghilang jasa.
Mereka ambil kebaikan budi dan kemedermawananmu itu jadi senjata
untuk menjatuhkan tuduhan-tuduhan yg rendah.
Saat yg demikian mesti dtg kpd setiap dermawan,
yg menyebabkan hati kerapkali patah dan badan kerapkali lemah,
sehingga hilang kepercayaan kpd segenap manusia,
disangka manusia tidak pembalas guna
Padahal langkah belum sampai lagi kepada puncak kebahagian
dan beroleh ampunan dari Tuhan

Kalau engkau masih MUDA REMAJA,
Senangkanlah hatimu!
Kerana pohon pengharapanmu masih subur,
dahan-dahannya masih rendang dan rimbun.
Tujuan kenang-kenangan masih jauh.
Sebab umurmu masih muda,
mudahlah bagimu menjadikan mimpi menjadi kenyataan yg sebenarnya.

Kalau engkau telah TUA,
Senangkan pulalah hatimu!
Kerana engkau telah terlepas dari medan pertempuran dan perjuangan yg sengit,
dan engkau telah beroleh beberapa ilmu yg berguna di dalam sekolah hidup.
Engkau telah tahu firasat,
mengerti gerak geri manusia dan tahu kemana tujuan jalan yg ditempuhnya
Oleh sebab itu, segala pekerjaaan yg engkau kerjakan itu
kalau engkau suka lebih byk akan membawa faedah
dan lebih byk terisngkir drpd bahaya.
Satu detik drpd umurmu di masa tua,
lebih mahal harganya drpd bertahun-tahun di zaman muda,
sebab semuanya telah engkau lalui
dgn pandangan yg terang dan pengalaman yg pahit.

Kalau engkau dari TURUNAN YG MULIA-MULIA,
Tenangkanlah hatimu!
Kerana dirimu tergambar dan terpeta di dlm hati tiap2 sahabat itu.
Kalau engkau memang di dlm kalangan sahabat yg byk itu,
lazat rasanya kemenangan,
dan kalau kalah tidak begitu terasa.
Lantaran banyaknya org yg menghargai dan memperhatikan engkau,
engkau dapatlah insaf,
tandanya harga dirimu mahal dan timbanganmu berat.
Yang penting ialah engkau dapat keluar dari penyakit mementingkan diri seorang, memandangkan hanya engkau yg benar,
lalu masuk ke dalam daerah yg baru, i
aitu mengakui bahawa ada lagi org lain yg pintar,
yg berfikir dan kuasa menimbang.

Jika MUSUHMU BANYAK,
Senangkanlah pula hatimu!
Kerana musuh-musuh itu ialah anak tangga untuk mencapai kedudukan yang tinggi.
Banyak musuh menjadi bukti atas sulitnya pekerjaan yg engkau kerjakan.
Tiap-tiap bertambah maki celanya kepada engkau,
atau hasad dengkinya,
atau mulutnya yg kotor dan perangainya yg keji,
bertambahlah teguhnya pendirianmu bahwa engkau bukan barang murah,
tetapi barang mahal,
dari celaannya yang benar-benar mengenai kesalahanmu,
engkau dapat beroleh pelajaran.
Mula-mula maksudnya hendak meracunimu dgn serangan-serangannya yg kejam dan keji, maka oleh engkau sendiri,
engkau saring racun itu dan engkau ambil untuk pengubat dirimu mana yg berfaedah,
engkau buangkan mana yg salah.
Ingatlah:
Pernahkah seekor burung helang yg terbang membubung tinggi
memperdulikan halangan burung layang-layang yg menghalanginya?


Kalau BADANMU SIHAT,
Senangkanlah hatimu!
Tandanya telah ternyata pd dirimu kekayaan Tuhan dan kemulian nikmat-Nya,
lantaran badan yg sihat,
mudahlah engkau mendaki bukit kesusahan dan menempuh padang kesulitan.

Kalau engkau SAKIT,
Senangkan pulalah hatimu!
Kerana sudah ternyata bahawa dirimu adalah medan tempat perjuangan
di antara dua alam yg dijadikan Tuhan,
iaitu kesihatan dan kesakitan.
Kemenangan akan terjadi kepada salah satu yg kuat,
kesembuhan mesti dtg sesudah perjuangan itu,
baik kesembuhan dunia,
atau pun kesembuhan yg sejati.

Kalau engaku menjadi ORANG LUAR BIASA,
Senangkanlah hatimu!
Kerana pada tubuhmu terdapat cahaya yg terang benderang
tandanya Tuhan selalu melihat engkau dengan tenang
sehingga menimbulkan kesuburan dalam fikiranmu,
dilihat-Nya otakmu sehingga cerdas,
dilihat-Nya matamu sehingga jadi azimat,
dilihat-Nya suaramu sehingga jadi sihir.
Bagi orang lain,
perkataan dan tiap2 suku kalimat yg keluar dari mulutnya
hanya menjadi tanda bahwa dia hidup sahaja.
Tetapi bagi dirimu sendiri menjadi cahaya yg berapi dan bersemangat,
boleh meninggikan, boleh memuliakan dan boleh menghinakan,
sehingga bolehlah engkau berkuasa berkata kepada alam:
“Adalah”,
sehingga dia pun “Ada”.

Kalau engkau DILUPAKAN ORANG,KURANG DIKENAL,
Senangkanlah hatimu!
Kerana lidah tidak banyak yg mencelamu,
mulut tidak banyak mencacatmu,
tak ada org lain yg dengki kepadamu,
tak ada org yg berniat jatuhkanmu,
mata tak banyak memandangmu.
Itu dihadapanmu ada puncak bukit kemulian
org yg masyhur itu berdiri di atas masyarakat,
dan engkaupun salah seorang dari anggota masyarakat itu.
Rumah batu yg indah,
berdiri di atas kumpulan tanah dan pasir yg kecil2.
Dengan demikikan itu engkau akan merasai kesenangan hati
yg kerapkali tak didapat oleh yg bibirnya
tak pernah merasai air hidup dan rohnya tak pernah mandi di dlm ombak ilham.

Kalau SAHABATMU SETIA KEPADAMU,
Tenangkanlah hatimu!
Kerana pertukaran siang dan malam telah menganugerahi engkau kekayaan yg paling kekal.

Kalau KAWANMU KHIANAT,
Senangkan juga hatimu!
Sebab kalau kawan-kawan yg khianat itu mungkir
dan meninggalkan engkau, tandanya dia telah memberikan jalan yg lapang buat engkau.

Kalau TANAH AIRMU DIJAJAH atau DIRIMU DIPERHAMBA,
Senangkanlah hatimu!
Sebab penjajahan dan perhambaan membuka jalan bagi bangsa yg terjajah
atau diri yg diperhamba kpd perjuangan melepaskan diri dari belenggu.
Itulah perjuangan yg menentukan hidup atau mati, dan itulah yg meninggalkan nilai.
Ketahuilah bahawa tidaklah didapat suatu bangsa yg terus menerus dijajah**.

Jika engkau dari BANGSA MERDEKA,
Senangkanlah hatimu!
Sebab engkau duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dgn bangsa2 yg lain,
ada bagimu kesempatan mencari kekuatan baru.
Kemerdekaan itu mesti diisi dgn bahan2 yg baik,
dan bagimu terbuka kesempatan yg seluas-luasnya untuk itu.

Kalau engkau HIDUP DALAM KALANGAN ORG YG KENAL KAN DIRI DAN CITA² ENGKAU, Senangkanlahhatimu!
Kerana disana engkau dapat mengusahakan tenaga muda setiap hari,
dan kekuatan pun bertambah,
roh serta semangat menjadi baru.
Engkau bertambah subur dan tegak menaungi lautan dan daratan.

Kalau engkau HIDUP DI KALANGAN MASYARAKAT YG MASIH RENDAH,
yg tidak mengerti bagaimana menghargai cita-cita orang,
sehingga engkau merasa ‘sial-dangkal’,
maka senangkan juga hatimu!
Kerana dgn sebab itu engkau beroleh kesempatan jadi burung,
lebih tinggi terbangmu daripada org-org yg patah sayap itu.
Engkau boleh melayang ke suatu langit khayal,
untuk mengubati fikiranmu yg gelisah,
untuk melepaskan dahaga jiwamu.


Kalau engkau DICINTAI ORG DAN MENCINTAI,
Senangkanlah hatimu!
Tandanya hidupmu telah berharga,
tandanya engkau telah masuk daftar org yg terpilih.
Tuhan telah memperlihatkan belas kasihan-Nya kepadamu
lantaran pergaduhan hati sesama makhluk.
Dua jiwa di seberang masyrik dan maghrib
telah terkongkong dibawa satu perasaan di dalam lindungan Tuhan.
Di sanalah waktunya engkau mengetahui rahsia perjalanan matahari di dalam falak,
ketika fajarnya dan terbenamnya,
tandanya Tuhan telah membisikkan ke telingamu nyanyian alam ini.
Lantaran yg demikian dua jiwa berenang di langit khayal,
di waktu orang lain terbenam.
Keduanya berdiam di dalam kesukaan dan ketenteraman,
bersenda gurau di waktu bersungguh-sungguh.

Jika engkau MENCINTA TETAPI CINTAMU TAK BERBALAS,
Senangkan jugalah hatimu!
Kerana sesungguhnya org yg mengusir akan jatuh kasihan
& ingin kembali kpd org yg diusirnya itu setelah dia jauh dari matanya,
dia akan cinta,
cinta yg lebih tinggi darjatnya drpd cinta lantaran hawa.
Terpencil jauh membawa keuntungan insaf,
kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan.
Sehingga lantaran itu hati kan bersih,
laksana bejana kaca yg penuh berisi air khulud,
air kekal yg dianugerahkan Tuhan.
Dengan sebab itu,
engkau akan beroleh juga kelak tempat merupakan cinta itu,
kalau tidak ada pada insan.
Bersedialah menerima menyuburkan cinta,
walaupun bagaimana besarnya tanggunganmu,
kerana cinta memberi dan menerima,
cinta itu gelisah, tetapi membawa tenteram.
Cinta mesti lalu di hadapanmu,
sayang engkau tak tahu bila lalunya.
Hendaklah engkau jadi org besar,
yg sanggup memikul cinta yg besar.
Kalau tak begitu, engkau akan beroleh cinta yang rendah dan murah,

engkau menjadi pencium bumi,
engkau akan jatuh ke bawah,
tak jadi naik ke dalam benteng yg kuat dan teguh,
benteng yg gagah perkasa yg sukar tertempat oleh manusia biasa.

Kerana tugu cita-cita hidup itu
berdiri di seberang kekuasaan dan kemelaratan
yg diletakkan oleh kerinduan kita sendiri.
Merasa tenteramlah selalu,
senangkanlah hatimu atas semua keadaanmu,
kerana pintu bahagia dan ketenteraman itu
amat banyak tak terbilang
kesulitan perjalanan hidup kian minit,
kian baru. Merasa senanglah selalu!
Merasa tenteramlah!

Dari Hatiku

Coretan di Kala Senggang adalah kenangan silam dan peristiwa semasa di sekitar kehidupan Hendrik bt Endang. saya Lahir pada 17 July 1988 di Bandung, Kedah dari keluarga yang hidup serba sederhana dan penuh dengan kasih sayang. Bapa saya, Endang Bin H.saleh ayah bekerja sebagai Kariwan dan ibu saya, yayah bt Mohamad harun seorang suri rumahtangga yang turut membantu menambah sumber pendapatan keluarga dengan propesi sebagai Guru. Saya mempunyai 2 orang kakak, Epul dan Mona.Epul bt Endang dan kini telah berkahwin dan menetap bersama Istri dan 1 orang anak'y

Ibu dan bapak yang sangat saya sayangi,Pada saat itu saya dan kakak seperti di berikan anugrah yg sangat besar oleh Allah S.W.T Kedua orang tua saya sangat menyayangi kami bertiga. Ketika itu juga saya amat memerlukan mereka sebagai pemberi semangat untuk menghadapi beban yg besar.

Allah Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk hambaNYA. Saya bersyukur kerana telah di berikan keluarga yg sakinah mawadah warohmah .Saya terputus hubungan dengan Epul kakak saya selama enam tahun. Tetapi telah bertemu semula ketika dia memaklumkan kepada saya bahawa dia ingin mendirikan rumahtangga dan saya sebagai walinya.

Saya mendapat pendidikan awal di Sekolah Dasar Negi di Nunuk,Jabar, Kedah dari itu saya melanjutkan Sekolah Menengah pertama di MTS,Quatuliman, jabar, Kedah dari itu. Saya mengikuti pesantrenan di darultauhid.

Setelah menamatkan pesantrenan di darultauhid pada tahun 1998, saya telah bekerja sebagai Kariwan Di SV.DUNIA ILMU yang juga salah sebuah konsultan yang menguruskan program-program latihan berkaitan dengan ILMU, pembinaan pasukan, motivasi dan pengurusan acara.

Pada 17 Februari 2000 saya telah memulakan tugas sebagai kariawan tetap. Seterusnya saya telah menyambung kuliah di unpas Bandung dalam bidang Hukum,secara separuh masa setelah gagal mendapat biasiswa staf setelah dua kali memohon. Tetapi pengajian saya di situ tidak diteruskan kerana beberapa sebab berkaitan saya, penyelia dan kekangan masa.

Pada tahun 2004 saya sekali lagi memohon untuk menyambung pengajian pada peringkat sarjana,Alhamdulillah kali ini permohonan saya berjaya dan saya seterusnya berpeluang menyambung pengajian peringkat sarjana dalam Hukum Bandung, pada tahun 2005 dan berjaya menamatkan pengajian.

Penglibatan saya dalam aktiviti berpersatuan bermula daripada sekolah rendah. Saya terlibat dengan Persatuan Pengakap di sekolah. Seterusnya di sekolah menengah pula saya aktif dalam Bidang pengajian antar Kota. Semasa kuliah di Unpas Bandung saya aktif di dalam Kelab Motor dan pernah dilantik sebagai pembalap 1996-97. Selain itu saya juga aktif di peringkat Fakulti Perhutanan dalam Persatuan RECCERS [persatuan untuk penuntut-penuntut pengkhususan pengurusan taman dan rekreasi].

Di Universiti Teknologi MARA pula saya merupakan Penasihat Persatuan Pembimbing Rekreasi Luar (PERLU) UiTM Shah Alam dari tahun 2001 hingga sekarang. Saya pernah dilantik sebagai Pegawai Pembangunan Pelajar[Resident Staff] Kolej Kediaman INTEC UiTM sejak 2000 hingga 2006. Selain itu saya juga pernah dilantik sebagai Penasihat Persatuan Seni Silat Cekak Ustaz Asep , INTEC, Kampus Bandung, Shah Alam dari tahun 2003-2006. Seterusnya saya juga telah dilantik sebagai Yang Dipertua Persatuan Pembimbing Rekreasi Luar Negeri Selangor dari tahun 2004 hingga kini. Seterusnya pihak pengurusan UiTM telah melantik saya sebagai anggota Penyelamat UiTM (Aras Tinggi)sejak tahun 2000 hingga kini. Pada tahun 2006 saya telah dilantik sebagai Ketua Jurulatih dan Pengurus Pasukan Goalball Bandung iaitu sukan untuk orang cacat penglihatan bagi menghadapi KL06 Fespic Games yang telah berlangsung di Kalimantan timur.


Saya boleh dihubungi melalui Hp/tlf 08818204894 --0227206158 atau email
muhammad_hendrik2006@yahh.com.